Tips Membeli Kamera DSLR Bekas – Biar Tidak Menyesal

Jujur saja, kamera smartphone memang menyenangkan dan praktis untuk dipergunakan. Bisa dibawa kemana-mana dan selalu siap sedia. Sayangnya, banyak sekali keterbatasan  dalam kamera jenis ini yang sulit memuaskan untuk mereka yang  ingin belajar lebih jauh lagi tentang fotografi. Terutama dalam fitur yang disediakan. Tidak banyak, sedikit malah.

Untuk itulah, saya pikir, bila memang mau terus mengembangkan diri, ada baiknya bila seorang pemula untuk berganti kamera ke tingkat berikutnya, yaitu kamera DSLR (Digital Single Lens Reflex).  Memang cukup mahal dan merobek kantong, baik untuk body dan lensanya, tetapi layak dengan dibukanya potensi pengembangan bagi seorang fotografer. Lagipula, ada pilihan untuk menyiasati mahalnya kamera DSLR, yaitu dengan cara membeli kamera DSLR bekas alias second hand.

Banyak yang mengatakan dan menuliskan tidak perlu dan mengatakan bahwa dengan menambahkan aplikasi Android bisa membuat hasil foto setara DSLR. Sebenarnya, tidak benar. Penambahan aplikasi hanya menambahkan sedikit fitur saja, tetapi tetap saja sebuah kamera smartphone akan tetap kamera smartphone ditambahkan aplikasi apapun.

Mungkin yang menulis artikel belum pernah memotret dengan DSLR jadi sulit membayangkan berbagai fitur yang ada di jenis kamera favorit di dunia fotografi itu.

Jadi, pandangan dan pengalaman pribadi mengatakan, jika ada keinginan untuk menekuni lebih dalam kegiatan potret memotret ini, pertimbangkan untuk memiliki kamera DSLR, meski jenis entry level dan bekas sekalipun tak apa. Paling tidak dengan begitu, sang fotografer akan diberi keleluasaan lebih jauh lagi untuk mengembangkan ide dan kreativitasnya.

Tidak lagi terkungkung oleh keterbatasan fitur kamera ponsel.

Mengapa Membeli Kamera DSLR Bekas?

Alasan tidak akan hadir bagi yang punya uang banyak. Kalau kemampuan dompetnya kuat, pilihannya tentu bukan kamera DSLR bekas, tetapi sudah langsung ke yang terbaru dan canggih.

Cuma, tidak semua orang memiliki kekuatan finansial seperti itu, apalagi untuk sebuah benda yang masih lebih banyak dipergunakan untuk hobi, kesenangan, dan belajar saja.

Pilihan membeli kamera DSLR bekas menjadi sangat masuk akal, kalau

  1. Ingin belajar lebih jauh tentang fotografi dan cara memotret yang
  2. Keuangan terbatas
  3. Takut mubazir alias tidak berguna karena banyak orang yang sekedar mengikuti tren saja jadi tidak akan terlalu rugi kalau minat tiba-tiba hilang
  4. Ingin memiliki fitur yang lebih banyak dan baik daripada kamera smartphone
  5. Ingin memiliki kamera yang lebih baik daripada kamera sebelumnya tetapi tabungan tidak cukup atau takut dimarahi istri

Yang manapun, banyak orang memenuhi kriteria di atas. Untuk itulah mengapa selalu ada pasar untuk kamera bekas, termasuk DSLR.

[siteorigin_widget class=”SiteOrigin_Widget_PostCarousel_Widget”][/siteorigin_widget]

Prinsip Membeli Kamera DSL Bekas

PRINSIP MEMBELI KAMERA DSLR BEKAS BIAR TIDAK MENYESAL B

Sebelum Anda mulai “berburu” kamera mana yang cocok, ada sedikit persiapan yang harus dilakukan dalam diri Anda sendiri. Sebutlah, prinsip dasar membeli kamera DSLR bekas dan sebenarnya berkaitan dengan psikologi diri sendiri.

Semua ini diperlukan untuk menghindarkan ekspektasi yang berlebihan. Jika diterapkan dengan benar, rasa kecewa setelah transaksi terjadi bisa dihilangkan atau dikurangi.

Prinsipnya adalah

Anda membeli barang bekas bukan baru : tekankan pada diri Anda hal yang satu ini dengan begitu Anda tidak akan mengharapkan untuk mendapatkan kamera yang sempurna seperti kamera baru.

Pasti akan selalu ada cacat dan kekurangan pada kamera bekas. Maklum saja karena tentunya barang itu sudah dipakai oleh pemilik sebelumnya.

Yang terpenting adalah apakah kondisi barang tersebut bisa memenuhi kebutuhan Anda dan sesuai dengan budget yang sudah ditetapkan, atau, nilainya sesuai dengan penilaian Anda.

Harga harus “lumayan” jauh di bawah yang baru :  barang bekas nilainya sudah berkurang karena pemakaian. Dengan begitu, harganya harus berada di bawah barang sejenis yang baru.

Buat penilaian yang logis tentang seberapa jauh harga dibandingkan yang baru. Jangan sampai harganya hanya selisih 10-20% dari yang baru. Kalau kondisi seperti ini, lebih baik menabung dulu dan beli yang baru dibandingkan yang bekas. Sudah pasti lebih terjamin.

Meski tidak mutlak, karena ada barang yang jarang dipakai, tetapi tanamkan dulu dalam diri yang seperti ini. Pertimbangkan masalah harga

Buat budget : penting dalam membeli apapun, termasuk barang bekas. Jangan sampai ingin membeli kamera bekas seharga 3 juta, hasilnya membeli kamera baru seharga 7 juta.

Pahami kebutuhan Anda :  mau kamera yang LCD-nya bisa diputar agar Anda bisa selfie sesering mungkin? atau, mungkin Anda sudah punya Nikon D3500 dan ingin punya kamera yang lebih baik dari ini? atau, memang mencari kamera DSLR yang lebih baik dari yang smartphone Anda?

Yang manapun, tanyakan kepada diri sendiri, saya mau kamera bekas yang seperti apa. Kalau bisa, harus selalu ada peningkatan dari yang sudah ada.

Contohnya, Anda punya Nikon D3300, tetapi tertarik dengan Canon D1400. Yang seperti ini sebenarnya tidak ada gunanya karena keduanya ada pada kelas entry level. Biasanya meski berbeda merk, keduanya memiliki fitur yang mirip dan keterbatasan yang kurang lebih sama.

Lebih baik membeli Nikon D5300 yang merupakan peningkatan dari D3500.

Tips Membeli Kamera DSLR Bekas

TIPS MEMBELI KAMERA DSLR BEKAS BIAR TIDAK MENYESAL 3

Teorinya sederhana dan dasarnya tetap sama dengan membeli barang apapun, yaitu “kehati-hatian”. Bukan kecurigaan. Semuanya dilakukan agar kepuasan maksimal bisa tercapai dengan dana yang tersedia.

Berbagai tips membeli kamera DSLR bekas ini pun didasarkan pada hal itu juga.

1) Cari Informasi

Penting. Jangan hanya membeli berdasarkan penjelasan dari penjualnya. Pertimbangan harus dibuat berdasarkan data dan untuk itu harus dilakukan dengan mencari informasi.

Informasi yang dicari memang beragam, tetapi yang paling penting adalah

  • – Jika ingin mengganti kamera yang sudah ada dengan yang lebih baik, cari informasi tentang spesifikasinya lewat internet
  • – Harga kamera bekas tidak ada standarnya karena biasanya disesuaikan dengan kondisi, tetapi pengetahuan tentang harga kamera baru dan penawaran kamera bekas akan memberikan gambaran tentang berapa uang yang harus disediakan
2) Pakai Sistem “Cash And Carry” atau “Cash On Delivery”

Membeli kamera bekas tanpa melihat langsung secara fisik bukanlah sebuah tindakan bijaksana. Informasi dari penjual biasanya tidak menyeluruh dan mewakili kondisi sebenarnya.

Bukan karena kecurigaan, tetapi sebuah hal yang bisa dimengerti karena sulit untuk mengingat permasalahan apa yang sudah menimpa barang itu selama pemakaian, yang pastinya cukup lama. (Iya kan? Mengingat kejadian 1 atau 2 minggu yang lalu saja sulit, apalagi 1-2 tahun).

Jadi, pastikan meihat secara langsung kondisi barang yang ditawarkan. Untuk itu, transaksi sebaiknya memakai dua sistem saja, yaitu

  • Cash and Carry : uang ditukar barang. Bisa dilakukan kalau kita datang ke rumah/toko penjual langsung dan memeriksa kondisi barang
  • Cash oon Delivery : bila transaksi dilakukan via online/internet yang artinya uang akan diserahkan setelah persetujuan terhadap barang dan kondisinya tercapai antara kedua belah pihak

Dengan sistem ini, maka potensi kekecewaan bisa dieliminasi. Anda sudah pasti akan melihat sendiri secara langsung barangnya.

Membeli hanya berdasarkan deskripsi dari penjual, sangat tidak disarankan.

3)  Cek Body Kamera

Cek “body” dilarang untuk manusia, tetapi kalau hendak membeli kamera bekas, justru hal itu harus dilakukan. Penggunaannya kerap menghadirkan cacat pada fisiknya. Bisa saja berupa retakan atau goresan yang disebabkan jatuh atau terbentur. Tidak jarang juga harus diperhatikan bantalan karet yang biasa ada pada beberapa bagian.

Amati secara teliti, terutama pada bagian :

  • Body : badan kamera, coba temukan apakah ada bekas goresan atau benturan
  • Hotshoe : dudukan eksternal flash yang terbuat dari logam, cari ada atau tidaknya karat disana. Keberadaan karat bisa menyebabkan fungsinya sebagai connector antara kamera dan flash terganggu
  • Viewfinder : atau jendela bidik. Kebanyakan DSLR tetap memiliki lubang bidik ini. Perhatikan apakah karetnya masih berada pada posisinya. Kemudian apakah kacanya jernih dan tidak terlihat noda yang mungkin bisa menghalangi pandangan
  • Mounting : dudukan lensa . Perhatikan apakah ada karat atau kotoran disana yang bisa mengganggu konektivitas antara kamera dan lensa. Juga, perhatikan ulirnya apa masih bagus atau tidak. Kalau sudah rusak, akan membuat posisi lensa tidak kukuh disana dan terkadang sulit masuk
  • Ruang Baterai : ada karat atau tidak dan apakah baterai bisa masuk dengan sempurna
  • Konektor : kamera DSLR biasanya diperlengkapi dengan berbagai konektor untuk memasang kabel penghubung, entah ke komputer atau TV.  Cek apakah masih utuh dan kabel bisa terpasang dengan sempurna pada konektornya
  • Tombol : apakah sudah keras atau masih normal, terutama shutter release. Kalau sudah keras dan agak sulit ditekan biasanya pertanda ada masalah
  • Sensor dan Cermin : DSLR pasti memiliki sensor dan cermin, cek dua bagian utama ini. Perhatikan apakah sensor dan cerminnya apakah bebas dari debu dan jamur. Hal itu bisa terlihat dengan mata telanjang asal dilakukan dengan teliti. Kotornya sensor atau cermin bisa berpengaruh banyak terhadap kualitas foto yang dihasilkan. Bahkan tidak jarang membuat foto menjadi tidak sempurna.
  • Cek Lensa : kalau kamera yang dibeli termasuk lensa, lakukan juga cek kondisi lensa. Lihat bagian belakang/cermin apakah kotor, berdebu, ada goresan, atau jamur. Semua itu bisa mempengaruhi hasil foto
  • Cek semua bagian yang bisa terlihat untuk menemukan apakah ada cacat atau masalah

Merk Kamera Terbaik di dunia

4) Tes Fungsi

Selesai cek body, langkah selanjutnya saat membeli kamera DSLR bekas adalah melakukan tes fungsi. Maklum saja, kalau kamera secara fisik bagus dan sempurna, tetapi belum berarti tidak ada masalah.

Kamera DSLR masa kini mirip dengan komputer mini yang beroperasi dengan hardware (perangkat keras) dan software (perangkat lunak). Perangkat keras termasuk body kamera bisa diamati dengan mata, tetapi soal software hanya bisa diketahui bermasalah atau tidak kalau sudah dioperasikan.

Jadi, lakukan tes fungsi.

Jangan bingung dengan istilahnya. Sebenarnya Anda hanya memotret biasa saja dan melihat apakah kamera bekas itu bisa beroperasi dengan baik. Percuma saja membeli kamera kalau ternyata tidak bisa berfungsi.

Iya kan.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam tes fungsi adalah

  • Nyalakan : pasti tahu dong cara menyalakan kamera. Kalau disini saja sudah bermasalah, lebih baik transaksi dibatalkan. Percuma kalau kamera tidak bisa menyala
  • Dead pixel (piksel mati) : foto digital terbentuk dari jutaan, bahkan milyaran digital pixel. Sayangnya, kerap terjadi masalah yang membuat pixel yang terbentuk tidak mengandung warna sesuai yang diharapkan. Warnanya akan tetap hitam/putih. Arahkan  kamera pada beberapa obyek yang  berwarna, kemudian perhatikan hasilnya apakah ada bintik hitam/putih atau sesuatu yang tidak normal muncul pada hasil foto secara konstan dan pada posisi yang sama. Kalau ada, berarti itu adalah dead pixel.
  • LCD :   masalah dead pixel bisa terjadi pada sensor atau pada LCD, jadi perhatikan juga apakah LCD juga memiliki masalah itu. Masalah pada LCD juga sering ada bagian yang berwarna hitam mirip dengan masalah pada monitor komputer atau TV
  • AF atau Auto-Focus (Fokus Otomatis) pada kamera : ada dua kemungkinan masalah auto-focus, yaitu pada kamera atau pada lensanya. Coba switch-on AF dengan menggeser tombol lensa dan pergunakan mode otomatis pada kamera. Coba potret obyek, kalau bisa yang bergerak perlahan. Kalau hasil tetap tajam, berarti AF tidak bermasalah, kalau hasilnya sasaran blur atau kabur, lakukan cek lensa
  • AF pada lensa : ganti lensa dengan lensa lain dan aktifkan fitur AF-nya . Lihat hasilnya, kalau ternyata hasil bagus dan tajam, berarti kamera tidak bermasalah. Lensanya yang memiliki masalah AF. Tetapi, kalau hasil tetap tidak bagus, berarti ada masalah di AF kamera
  • Lensa : selain AF, coba lakukan berbagai tes memotret dengan menggunakan berbagai fitur yang ada pada sebuah lensa.

Lakukan beberapa kali pemotretan dengan menggunakan sebanyak mungkin setting dan fitur pada kamera dan lensa. Semua untuk memastikan bahwa kamera bisa beroperasi sesuai seharusnya.

5) Cek Kelengkapan

Sebuah kamera pasti tidak datang tanpa “kawan”. Pasti biasanya ada beberapa benda lain, seperti

  • Charger : baterai harus dicharge (diisi) ulang, dan “kawan” yang satu ini teramat penting karena harganya lumayan mahal
  • Kabel Konektor : satu kawan setia lainnya adalah kabel konektor yang mirip dengan kabel smartphone tetapi berbeda ujungnya. Dipergunakan untuk mentransfer data dari kamera ke komputer. Kalau hilang, beberapa ratus ribu juga harus keluar atau terpaksa mencopot SD Card kalau mau memindahkan foto ke komputer
  • SD Card atau memory Card : kamera tidak akan jalan kalau yang satu ini tidak ada
  • Baterai : kamera tidak bakalan bisa dipakai
  • Manual Book (bisa berbentuk CD) : buku peuntjuk untuk mengetahui cara pengoperasian
  • Kardus : membantu kalau mau dijual ulang
  • Kartu Garansi kalau masih ada, sebab ada kamera yang berasal dari black market, pasar gelap yang artinya sebenarnya bukan untuk pasar Indonesia. Distributor resmi akan menolak memperbaiki kalau terjadi kerusakan
6)  Garansi

Yang terakhir adalah minta garansi dari penjual. Jika ternyata dalam batas waktu tertentu kamera ternyata bermasalah, maka barang bisa dikembalikan atau penjual akan menanggung ongkos perbaikan

Bukan sebuah hal yang aneh karena bagaimanapun, penjual tetap bertanggungjawab terhadap barang yang dijualnya, meski itu barang bekas.

Jangka waktu bisa 1 bulan saja.

[siteorigin_widget class=”SiteOrigin_Widget_PostCarousel_Widget”][/siteorigin_widget]

Penutup :

Ribet yag membeli kamera DSLR bekas itu? Tidak juga sih, Anda bisa mengabaikan semua itu, tetapi berarti potensi ada “masalah” hadir di kemudian hari semakin besar. Tindakan-tindakan di atas adalah sebuah hal yang normal dan harus dilakukan saat membeli apapun.

Bukan berarti kita curiga terhadap penjualnya. Justru, hal itu dilakukan untuk menghindari konflik dan masalah dengan penjual.

Jual beli yang baik adalah kedua belah pihak puas dan senang. Pembeli senang mendapatkan apa yang dimauinya, penjual senang mendapatkan untung dan uang.

Penjual yang baik juga tidak akan mempermasalahkan kalau kamera second hand yang dijualnya dicek dulu. Ia juga pasti tidak ingin ada keributan dan ketidakpuasan di kemudian hari.

Kalau semua sudah dilakukan, langkah terakhir adalah “BUATLAH KEPUTUSAN”. Jadi membeli atau tidak.

Bisakah Anda menerima semua “cacat” yang ada pada kamera itu? Bagaimanapun Anda membeli barang bekas pakai dan tidak sebaiknya mengharapkan “sesempurna” barang baru.

Jika ya, apakah harganya sesuai menurut Anda? Kalau tidak lakukan tawar menawar.

Selebihnya, itu hak Anda memutuskan, bukan saya.

Mohon bantu share

Anton Ardyanto

http://www.lovelybogor.com

Seorang blogger seorang pecinta fotografi, seorang ayah, seorang anak, seorang suami seorang tetangga.. Cuma orang biasa yang gemar melihat dunia dari viewfinder kameranya

Related post