• September 21, 2019

Tips #002 : Tes Jepret Untuk Memahami Lokasi Pemotretan

 Tips #002 : Tes Jepret Untuk Memahami Lokasi Pemotretan

Sayang memang kalau kita “membuang” jepretan tanpa mendapatkan hasil. Apalagi kalau membaca berbagai tulisan bahwa kamera memiliki batasan jumlah “shutter count” tertentu. Jadi, sebisa mungkin memang kita harus berusaha membuat agar setiap jepretan kamera yang kita lakukan bisa menghasilkan sebuah foto yang berarti.

Tetapi, pemikiran ala bisnisman seperti itu yang tidak mau rugi, sebaiknya diabaikan jika hendak melakukan pemotretan. Hal tersebut bisa menghambat untuk menghasilkan foto yang baik.

Alasannya adalah karena, seringnya bagi yang gemar memotret di luar ruangan, kita harus memahami lokasi pemotretan yang dipilih. Mau tidak mau seringnya kita harus “membuang” beberapa shoot untuk memperkirakan hasil fotonya seperti apa, sebelum sesi pemotretan yang sesungguhnya dilakukan.

Bagaimanapun kondisi pemotretan tidak akan sama tiap waktu dan setiap tempat. Masing-masing akan memiliki kondisi yang berbeda. Padahal, penting bagi seorang fotografer untuk bisa mengerti dan memahami situasi lingkungan pemotretan.

Memang, bagi yang sudah mahir dan pakar, terkadang prediksi mereka bisa tepat, tetapi tidak berarti selalu tetap. Bisa juga tetap salah. Bagaimanapun, apa yang ada di dalam pikiran manusia bisa saja salah dan berbeda dengan apa yang dilihat kamera.

Dan resiko kesalahan itu bisa dikurangi dengan melakukan “tes jepret” alias melakukan eksperimen beberapa shooting foto “ala kadarnya”. Bukan berarti seenaknya dan tetap dilakukan dengan serius, tetapi dalam hal ini fotografer tidak mengharapkan hasilnya akan bagus. Tujuannya hanya sekedar eksperimen.

Tes Jepret Untuk Memahami Lokasi Pemotretan B

Dengan melakukan “tes jepret” seperti ini, sang fotografer bisa melihat beberapa hal :

  1. Setting kamera : Apakah sudah sesuai dengan kondisi dan situasi di lokasi pemotretan atau belum? Apakah sudah sesuai dengan ide dan tema foto yang hendak dihasilkan atau perlu disesuaikan?
  2. Pencahayaan : Apakah cahaya sudah mencukupi atau perlu dibantu dengan alat lighting lain seperti reflektor?
  3. Komposisi : Dimana obyeknya harus ditempatkan? Warna kostum atau baji apa yang sebaiknya digunakan?
  4. Gaya : Bagaimana subyek/obyek fotonya harus bergaya agar sesuai dengan ide dan tema?
  5. Sudut Pemotretan :  Yang mana sudut terbaik untuk mengambil fotonya? Apakah harus dari bawah atau dari samping? (Baca juga : Sudut Pengambilan Gambar – Normal, Kodok, Burung, Tinggi atau rendah )

Hasil foto dari tes jepret biasanya akan mengandung banyak kelemahan, tetapi disana juga banyak informasi yang bisa diambil. Apalagi, kamera sekarang sudah diperlengkapi dengan berbagai info yang mempermudah fotografer bisa menemukan settingan terbaik.

Efisien dalam memotret juga perlu, tetapi dalam hal ini, rasanya “membuang” beberapa jepretan justru akan memperbesar peluang untuk menghasilkan foto yang lebih baik. Dengan begitu, sang fotografer akan lebih memahami lokasi pemotretannya dan tidak ada yang lebih baik dari seseorang yang sudah mengerti dan memahami untuk menemukan pemecahan masalah.

Iya nggak?

Mohon bantu share

Anton Ardyanto

http://www.lovelybogor.com

Seorang blogger seorang pecinta fotografi, seorang ayah, seorang anak, seorang suami seorang tetangga.. Cuma orang biasa yang gemar melihat dunia dari viewfinder kameranya

Related post