• September 21, 2019

# Tantangan Satu Kamera Satu Lensa

 # Tantangan Satu Kamera Satu Lensa

One camera one lens. Satu kamera satu lensa. Salah satu bentuk challenge atau tantangan yang dikampanyekan oleh banyak sekali fotografer di berbagai belahan dunia.

Intinya bukan berarti seorang fotografer hanya boleh “memiliki” satu kamera dan satu lensa saja. Untuk yang ini terserah pada kemampuan orangnya, jika ia mampu membeli 10 kamera, ya beli saja. Punya uang untuk membuat koleksi 100 lensa, ya kenapa tidak. Silakan saja.

Tetapi, tantangan ini berdasar pada sebuah kenyataan bahwa seorang fotografer hanya akan bisa memotret dengan satu kamera dan satu lensa saja pada setiap waktu. Hampir tidak mungkin ia bisa memotret dengan dua atau tiga kamera sekaligus.

Iya kan?

Nah, berdasarkan pada itu tantangan ini lahir.

Tantangan satu kamera satu lensa adalah sebuah usaha seorang fotografer untuk hanya “membawa” satu kamera dan satu lensa saja pada saat melakukan perburuan foto, hunting, traveling. Jadi, ia ditantang untuk meninggalkan koleksi lensanya di rumah dan memilih hanya satu dari itu untuk dibawa.

Biasanya dilakukan dalam satu kali trip, tetapi bisa juga diperluas dalam satu periode tertentu, misalkan satu bulan atau 3 bulan.

Itulah yang disebut dengan one camera one lens challenge, satu kamera satu lensa.

Tujuan Tantangan Satu Kamera Satu Lensa

Tantangan satu kamera satu lensa
CGM Bogor Street Festival 2019

Pertanyaannya, mengapa tantangan ini harus dilakukan? Bukankah lebih baik membawa banyak lensa saat melakukan hunting foto. Jadi, kita punya pilihan lebih banyak dan menyesuaikan dengan momen yang tersedia?

Benar sekali!

Memang, memiliki banyak opsi itu menyenangkan. Tidak beda dengan ketika kita masuk ke dalam supermarket dan disuguhi ribuan pilihan. Sikat gigi saja menyediakan bisa sampai 10 jenis. Tentunya hal itu memberikan kebebasan.

Membawa banyak lensa dalam sekali perjalanan hunting foto memang memperluas pilihan jalan untuk menghasilkan sebuah foto.

Meskipun demikian, hal itu juga mengorbankan “sesuatu”, seperti :

  • Menambah beban : sekecil apapun sebuah lensa atau peralatan memotret, hal itu akan membebani fotografernya. Otomatis juga mengurangi kelincahannya karena harus memikirkan lebih banyak barang, termasuk menjaganya
  • Mengurangi konsentrasi : menjaga barang agar tidak diambil tangan tak bertanggungjawab juga membutuhkan waktu dan akhirnya bisa mengganggu konsentrasi. Belum lagi kalau ditambah dengan mempertimbangkan apakah lensa yang dipakai sudah cocok belum dengan obyek dan nuansa yang ingin dihasilkan. Perhatian akan terpecah
  • Kehilangan waktu : untuk mengganti lensa tentunya juga makan waktu. Fotografer ahli memang bisa melakukannya dalam beberapa detik, tetapi dalam beberapa genre fotografi, seperti fotografi jalanan atau human interest, waktu itu berharga. Sedikit saja terlewat momennya tidak akan kembali
  • Jangan lupa biaya tambahan : semakin banyak peralatan yang dibawa bisa juga menambah beban biaya, terutama jika bepergian ke luar negeri. Apalagi banyak budget airlines, seperti Lion Air, Citilink, Ryanair, sekarang membebankan biaya bagasi

Pasti ada pengorbanan yang dilakukan untuk opsi tambahan yang diinginkan. There ain’t no free lunch. Tidak ada makan siang gratis istilahnya. Semua pasti ada konsekuensinya, bayarannya walau dalam bentuk yang tidak bisa dilihat, seperti waktu, tenaga, atau konsentrasi.

Tantangan satu kamera satu lensa B
CGM Bogor Street Festival 2019

Dan, itulah tujuan dari “Tantangan Satu Kamera Satu Lensa” tadi. Tujuannya untuk meminimalisir berbagai hal yang menjadi distraksi (pengalih perhatian) seorang fotografer.

Dengan hanya menggunakan satu lensa saja, konsentrasi fotografernya bisa terfokus hanya pada :

  1. obyek
  2. setting kamera
  3. ide foto

Tidak ada hal lain yang membebani. Perhatiannya akan terfokus pada menghasilkan foto dan bukan hal-hal lain saja.

Tentunya hal ini akan sangat menguntungkan karena waktu yang sebelumnya terpaksa digunakan untuk memikirkan hal-hal yang tidak terlalu terfokus pada tugas utama fotografer, yaitu menghasilkan foto.

Memang tidak mudah, mengingat di zaman sekarang orang sangat menyukai untuk diberikan pilihan. Konsep tantangan satu kamera satu lensa justru berkebalikan. Fotografer tidak diberikan pilihan banyak selain dari apa yang dibawanya.

Tetapi menjalankan tantangan ini pada akhir membantu untuk mengembangkan kunci utama seorang fotografer yang baik, yaitu fotografernya sendiri.

Tantangan satu kamera satu lensa
CGM Bogor Street Festival 2019

Pada perhelatan CGM Bogor Street Festival 2019, atau dikenal dengan Cap Go Meh Bogor 2019, 19 Februari yang lalu, saya mencoba untuk menerapkan tantangan ini. Belum seratus persen karena saya tetap membawa tiga buah lensa yang saya punya, lensa kit 18-55 mm, 55-250 mm, dan lensa prime 50 mm.

Itu saja ternyata sudah lumayan repot karena selain itu masih ada beberapa benda lain yang harus digendong di punggung, seperti tas, botol minuman, jas hujan, smartphone, charger, dan beberapa benda lain. Lumayan terasa juga di punggung , terutama setelah beberapa jam berada di lokasi. Pegal.

Meskipun demikian, saya memutuskan hanya menggunakan satu lensa saja, yaitu si lensa fix 50 MM. Kali ini, saya ingin coba sekaligus memotret mengikuti apa yang disarankan Robert Capa, yaitu :

“If your photographs aren’t good enough, you are not close enough” ~ Robert Capa

Sang fotografer Magnum itu memang menekankan pada jarak pemotretan untuk memberikan kesan intim dalam foto-fotonya.

Dan, selama ini, memang salah satu hambatan yang saya alami memang mengenai memberi “rasa” dalam adonan foto-foto saya.

Jadi, saya putuskan memakai si fix 50 mm yang tanpa zoom agar saya terpaksa harus memotret dalam jarak yang dekat.

Tantangan satu kamera satu lensa C
CGM Bogor Street Festival 2019

Awalnya memang terasa “kagok”. Biasanya saya menggunakan si 55-250 mm dengan zoom yang cukup lebar agar tidak perlu terlalu capek dalam mengejar obyek dan menjaga jarak. Si fix tidak memberi keistimewaan itu.

Beberapa kali momen menarik lewat karena tidak terlalu biasa menggunakannya untuk jarak dekat. Dalam hal ini termasuk jarak dan settingannya.

Tetapi, setelah berjalan beberapa lama, justru menjadi nyaman sekali karena semakin terbiasa. Keputusan harus memakai aperture besar atau kecil, atau kapan harus memakai mode manual, semua bisa diputuskan lebih cepat.

Kosentrasi juga tidak lagi terfokus pada harus memakai lensa yang mana, karena sudah diputuskan memakai satu lensa saja, jadi konsentrasi bisa ditekankan pada sudut pengambilan fotonya. Harus ditempatkan dimana obyeknya, apakah backgroundnya sudah bagus atau tidak, justru mendapat porsi lebih.

Ketika ada momen atau obyek menarik pada jarak jauh, kaki langsung saja melangkah berlari untuk mengejarnya.

Lama kelamaan, secara reflek, memang hasil akhirnya adalah saya terfokus pada menghasilkan foto, sudut pengambilannya, setting yang terbaik, dan tidak lagi pusing harus memakai lensa yang mana. Semua energi hanya tercurah pada bagaimana berkreasi menghasilkan foto saja.

Hal yang lain terabaikan.

Sesi ini berhasil.

Saya tidak mengeluarkan lensa lainnya dari dalam tas dan selama berada di lokasi acara, hanya satu lensa saja yang dipergunakan. Si Canon Fix 50 mm saja. Tidak ada yang lain.

Tantangan satu kamera satu lensa D
Cap Go Meh Bogor Street Festival 2019

Dan, hasilnya, silakan lihat sendiri semua foto di tulisan ini. Not bad kan?

Kalau dibandingkan, yap memang betul apa yang dikatakan Robert Capa, bahwa kesannya lebih menyenangkan untuk dilihat kalau memotret dari jarak dekat.

Keuntungan lain yang belum bisa dicapai adalah punggung yang masih terasa pegal karena harus tetap menggendong tambahan dua lensa.

Belajar dari pengalaman menerapkan tantangan satu kamera satu lensa ini membuat saya berpikir bahwa ke depannya, sepertinya akan hanya ada satu lensa yang dibawa. Entah yang mana, tetapi rasanya sih si Fix 50 mm karena dirasa masih perlu mengasah keberanian memotret dari jarak dekat.

Bagaimana dengan Anda? Mau mencoba? Menyenangkan juga loh!

Mohon bantu share

Anton Ardyanto

http://www.lovelybogor.com

Seorang blogger seorang pecinta fotografi, seorang ayah, seorang anak, seorang suami seorang tetangga.. Cuma orang biasa yang gemar melihat dunia dari viewfinder kameranya

Related post