Posisi Pemotretan Menentukan Hasil Foto

Posisi Pemotretan Menentukan Hasil Foto

Dulu, zaman SMA, ada satu anekdot,candaan anak muda jaman dulu kalau “Posisi menentukan prestasi”. Maksudnya, kalau duduk sebangku dengan anak pintar, biasanya kita bisa nyontek dan hasil ulangan ikutan bagus. Sering juga diterjemahkan kalau duduk dengan anak yang otaknya encer, biasanya jadi kebawa rajin dan pintar juga.

Benar atau tidaknya anekdot itu juga susah dibuktikan karena kenyataannya, ada yang duduk dengan kawan yang pandai, tetap saja nilainya jeblok.

Terlepas dari masa lalu, ternyata pengalaman beberapa waktu yang lalu, tepatnya saat memotret pada Upacara Peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia ke-74 di Lapangan Sempur, Kota Bogor, mau tidak mau saya jadi teringat pada anekdot itu.

Yah, bukan apa-apa, meski sebenarnya membosankan, tetapi setelah berada di sana terselip niat untuk setidaknya membuat satu foto tentang bendera yang sedang berkibar. Toh, kebetulan memang harus berada disana dengan kamera. Jadi, kenapa tidak.

Tentu saja, seperti biasa, saya mencari posisi yang “enak” dan paling memungkinkan untuk mengambil berbagai foto kegiatan tadi. Sampai akhirnya, satu posisi menjadi pilihan. Tempatnya agak lowong dan tidak tertutup oleh peserta upacara. Jadilah, saya nongkrong disana.

Pada saat upacara berlangsung, barulah saya menyadari bahwa posisi yang diambil “salah”. Sangat salah bahkan.

Rupanya, karena sudah lama sekali tidak pernah ikut upacara bendera yang menyebalkan itu, saya kurang menyadari prosedurnya. Posisi yang saya ambil berada di sudut sejajar dengan tiang bendera. 

Memang, saya bisa memotret tanpa halangan. Bahkan, pergerakan tiga orang pengibar bendera bisa terlihat dengan sangat jelas. Setiap langkah dan apa yang mereka lakukan bisa masuk dalam bidang frame dan bersih dari halangan.

Sayangnya, ternyata arah benderanya sejajar dengan dimana saya berdiri. Dengan begitu pemandangannya menjadi seperti di bawah ini.

Posisi Pemotretan Menentukan Hasil Foto 2

Benderanya tidak terlihat membentang dengan gagah. Yang terlihat hanyalah punggung sang petugas pengibar bendera. Benderanya terlihat tipis sekali.

Jeleknya lagi, angin saat itu sedang malas bertiup dan tidak membuat bendera berkibar.

Dan, saat itulah saya teringat candaan di masa SMA dulu, sekaligus mengingatkan sebuah hal penting dalam fotografi, terutama tentang hal peliputan.

Saya seharusnya bisa mengantisipasi kalau pengetahuan tentang tata cara pengibaran bendera ada di kepala. Sayangnya, rasa tidak suka itu membuat saya gagal mengantisipasi dan akhirnya salah memilih posisi untuk memotret.

Menyebalkan juga sih, tapi apa daya.

Salah sendiri.

Mohon bantu share