Menjadi Pengarah Gaya Itu Tidak Mudah!

Terlihat menyenangkan dan enak, tetapi kenyataannya tidak demikian. Sangat jauh dari itu. Maksudnya, memotret model atau prewed itu tidak pernah menjadi sebuah hal yang gampang dilakukan. Memang kalau dalam hal memotret model, ada enaknya, kalau modelnya muda dan cantik. Hati terbawa senang dan nyaman melihatnya. Sayangnya, hal seperti itu tidak pernah merubah kenyataan bahwa tetap saja sulit dilakukan.

Mengapa? Ada satu hal yang paling susah untuk dilakukan, yaitu karena saat memotret dengan model, baik pro atau amatiran, seorang fotografer pun harus berperan ganda menjadi pengarah gaya.

Pose model foto berkaitan dengan ide apa yang ingin dihasilkan dan dalam hal ini seorang fotografer lah yang paling tahu karena ia yang memegang kamera dan ide apa yang hendak diwujudkan.

Masalahnya, tidak ada transfer telepati antara yang memotret dan dipotret. Wi-fi yang seperti ini belum dihasilkan. Jadilah, sang fotografer pun harus terus berusaha mengkomunikasikan antara ide dan kemauannya kepada sang model agar hasilnya bisa sesuai dengan kemauan.

Itulah mengapa skill komunikasi penting dan harus dimiliki oleh seorang fotografer. Hal itu akan sangat dibutuhkan dalam hal seperti ini.

Tidak mudah. Sangat tidak mudah. Yang namanya mengkomunikasikan hal seperti ini akan tidak mudah. Tidak bedanya mengajar di dalam kelas.

Jika modelnya sudah ahli dan emang profesional di bidang ini, tentu sangat menguntungkan. Setelah ia mendengarkan penjelasan tentang ide, biasanya ia akan mencoba berbagai pose dan menyesuaikan dengan ide, tema, dan kondisi di lapangan. Bahkan, ia bisa berkreasi dengan memberikan pose-pose yang baru. Kalau di kelas, model seperti ini masuk kategori murid pandai.

Bandingkan ketika harus memotret ibu-ibu yang tidak pernah berpose dan tidak tahu tentang hal seperti ini. Rasanya pasti sangat ampun susahnya. Mirip ketika berhadapan dengan murid terbodoh di dalam kelas.

Tidak fair memang membandingkan antara model pro dan ibu-ibu, tetapi setidaknya analogi seperti menggambarkan bahwa menjadi pengarah gaya bukanlah hal yang mudah. Butuh banyak hal, salah satunya adalah kreatifitas agar hasilnya tidak membosankan. Ia juga harus jeli untuk melihat kelebihan dari sang model.

Menjadi Pengarah Gaya Itu Tidak Mudah E

Kerumitan seperti inilah yang mungkin membuat saya lebih menyukai fotografi jalanan. Saya hanya memotret apa yang sudah tersedia dan tidak perlu mengatur dan mengarahkan pose dari modelnya.

Bukan berarti saya tidak pernah memotret dengan model, tetapi, saya hanya punya sedikit model yang menjadi sasaran kamera. Yang paling favorit dan paling sering adalah istri sendiri. Meskipun bukan model berpostur ideal, memotretnya adalah sesuatu yang menyenangkan.

Dari mencoba memotret dirinyalah, saya belajar bahwa tidak mudah mengkomunikasikan ide di kepala dengan yang menjadi model. Butuh kedekatan dan komunikasi yang jelas antara fotografer dan modelnya.

Tidak menjadi mudah ketika modelnya istri sendiri, yang bukan model sama sekali. Hanya ibu rumah tangga saja. Ia tidak tahu cara berpose sama sekali kecuali sekedar untuk senang-senang.

Tapi, setidaknya kalau memotretnya sebagai model, setidaknya kami berdua bisa bergembiran dan tertawa bersama saat melihat hasil-hasil fotonya. Sesuatu yang lebih menyenangkan dan tidak bisa didapat saat memotret model pro manapun.

Mohon bantu share

Anton Ardyanto

http://www.lovelybogor.com

Seorang blogger seorang pecinta fotografi, seorang ayah, seorang anak, seorang suami seorang tetangga.. Cuma orang biasa yang gemar melihat dunia dari viewfinder kameranya

Related post