• September 21, 2019

Memotret Makanan, Tidak Selalu Harus Dari Atas, Ini Tips-nya

 Memotret Makanan, Tidak Selalu Harus Dari Atas, Ini Tips-nya

Kegiatan memotret makanan, sejak semakin populernya Facebook dan Instagram, adalah salah satu hal yang menjadi kebiasaan dilakukan oleh siapapun. Memang biasanya hasil fotonya akan diunggah ke kedua media sosial tersebut, baik sekedar untuk bersenang-senang, memamerkan pengalaman berkuliner, sampai untuk usaha meningkatkan “status”.

Sudah bukan sebuah hal yang aneh lagi, melihat seseorang, setelah hidangan tersaji di depannya, yang dilakukannya bukanlah membaca doa sebelum makan, tetapi malah mengeluarkan ponsel, memotret dan kemudian mengunggahnya ke medsos.

Hanya saja sayangnya, kebanyakan hasil fotonya kurang enak dilihat, dan banyak yang mengandalkan pemotretan “top view” atau dari atas saja.

Jujur saja, sesuatu yang kurang bisa dimengerti kebiasaan seperti itu.

Barulah beberapa waktu yang lalu, pada saat kebetulan saya mengajar di kelas blogging, ada satu hal yang menjelaskan alasan di belakangnya.

Seorang peserta, ibu-ibu dengan anak sebaya si kribo kecil mengeluarkan dua pernyataan, yaitu

  1. Bukannya memotret makanan itu harus dari atas ?
  2. Bukan kah bayangan itu jelek dan tidak boleh ada  dalam foto ?

Bingung mendengarnya.

Kok bisa berpandangan seperti itu.

Cuma, setelah membaca berbagai tips dan trik tentang foot photography atau fotografi makanan, rupanya saya menemukan banyak sekali tulisan yang mengadakan bahwa memotret makanan secara top view atau tegak lurus di atas obyeknya adalah yang paling memungkinkan untuk mendapatkan hasil yang instagrammable.

Tidak sedikit yang mengatakan penggunaan sudut top view adalah “harus”.

Maybe, mungkin, itulah yang menjadi dasar dari mengapa sang ibu-ibu tadi menyatakan bahwa memotret makanan harus dari atas.

Membuat Foto Makanan Supaya Mengundang Selera B

Bukan keharusan !

Memang, internet punya dua sisi, sisi baik dan buruk. Sisi baiknya, semua orang bisa mencari pengetahuan, info, dan berbagai hal lain dengan mudah. Sisi jeleknya, tidak semua informasi itu sebenarnya dibuat oleh yang mengerti.

Dalam hal ini, tidak pernah ada buku panduan bahwa memotret makanan harus selalu dari atas. Semua fotografer dan penggemar fotografi menyadari bahwa sifat fotografi sendiri memiliki unsur seni di dalamnya, dan seni tidak memiliki batasan yang kaku.

Memang ada banyak “aturan” atau “hukum” dalam fotografi yang mendasari lahirnya tulisan bersifat tops dan trik yang banyak dibuat, tetapi “TIDAK PERNAH ADA KEHARUSAN” untuk mengikuti dan mematuhinya. Tidak juga berarti yang tidak mengikutinya fotonya selalu menjadi jelek.

Bukan juga berarti tidak boleh memotret makanan dari atas.

Itu hanyalah sebuah opsi saja dan bukan keharusan atau kewajiban.

Kata HARUS tidak ada dalam dunia fotografi. Kata itu hanyalah sebuah kata yang umum digunakan penulis, blogger, marketer, untuk memancing orang membaca atau melihat apa yang ditulisnya. Kata WAJIB juga sama nasibnya.

Padahal, tidak ada. Berbagai teori fotografi sifatnya adalah panduan saja untuk memberikan arah, tetapi tidak mengikat. 

Tercampur dengan genre/teknik lain?

Sangat bisa jadi bahwa tulisan tentang tips dan trik tentang membuat foto makanan dibuat oleh orang yang tidak memahami tentang dunia fotografi. Bisa jadi mereka hanya menyadur dari berbagai tulisan orang lain (dan hal ini banyak terjadi), sehingga mereka tidak paham benar-benar.

Masih mengambil contoh dari celetukan ibu-ibu tadi, yang kedua dimana bayangan akan membuat foto jelek, sangat mungkin yang terjadi adalah ia mencampur adukkan food photography dengan teknik/genre fotografi flat lay.

Genre yang terakhir disebut memang menggunakan bidang datar, seperti meja untuk obyek-obyeknya dan pemotretannya memang dari top view atau harus dari atas.

Sangat mungkin kesalahpahaman terjadi karena biasanya orang memotret makanan di atas meja, terjadi pencampur adukan bahwa semua harus sama dengan flat lay

Apalagi, penekanan lanjutan tentang “tidak boleh ada bayangan”, sesuatu yang juga merupakan bagian dari flat lay.

Bukan tidak mungkin kalau penulisnya sendiri mencampur adukkan semua menjadi satu agar terlihat banyak, informatif, meski sebenarnya informasinya kurang pas.

Memotret Makanan Tidak Selalu Harus Dari Atas 4
memotret makanan dengan kamera smartphone.6

Tips Memotret Makanan

Fotografi makanan sama dengan berbagai genre fotografi dimana kreativitas fotografernya lah yang berperan (meski terkadang kamera juga berkontribusi penting). Pengetahuan dan kemampuan mengembangkan ide, perhatian terhadap detail, kerap menjadi penentu hasilnya.

Bagi Anda yang hendak memotret makanan, baik untuk sekedar iseng, atau ingin pamer di dunia maya, ada beberapa tips kecil untuk melakukannya agar setidaknya foto makanannya enak dilihat.

  • Pesan makanannya dulu : tanpa obyek makanan, tidak ada fotografi, selain itu juga untuk memastikan pelayan dan yang punya rumah makan tidak mengganggu Anda karena belum memesan juga. Jangan potret makanan milik pelanggan lain, tidak sopan
  • Perhatikan bentuk : tidak semua makanan enak dilihat dan indah untuk dipotret. Kalau memang bentuknya tidak menarik, daripada membuang waktu, sebaiknya makan saja. Bentuk dan pola memegang penting dalam hal ini
  • Perhatikan warna : bagaimanapun sebuah foto yang menarik memerlukan perpaduan warna yang baik, seperti warna cool atau active 
  • Latar belakang : sekosong mungkin yang kalau di rumah makan biasanya agak sulit, tetapi usahakan jangan ada obyek lain yang mengganggu dan menyebabkan foto menjadi bocor 
  • Pencahayaan : perhatikan arah datangnya cahaya, kecuali Anda memotretnya di rumah sendiri. Usahakan cahaya tidak datang dari arah berlawanan dengan kamera
  • Pergunakan Bokeh : latar belakang blur sangat bagus, baik untuk menambah unsur estetikanya , juga bisa dipergunakan untuk menghilangkan latar belakang yang tidak mendukung
  • Detail : perlihatkan bagian yang paling menarik dari makanan itu , seperti black forest yang biasanya terdiri dari beberapa lapis, sebaiknya dipotret dari bagian sisi untuk memperlihatkan berbagai lapisan yang ada
  • Pola : makanan seperti pizza biasanya disajikan dalam keadaan sudah terpotong 6 atau delapan. Nah potongan-potongan ini membentuk pola yang bisa memanjakan mata. Coba cari pola pada makanan di hadapan Anda
  • Memotret dari dekat : semakin dekat semakin baik, itu inti Robert Cappa, seorang fotografer ternama di masa lalu, dan prinsip ini berlaku juga dalam fotografi. Potretlah dari jarak sedekat mungkin. Hal itu juga bagus untuk memperlihatkan detail dari makanannya
  • Sudut Pemotretan : sama dengan genre lain, lakukan beberapa kali pemotretan dari berbagai sudut untuk melihat berbagai kemungkinan. Jika memang mejanya kosong, bisa pergunakan teknik flat lay dengan meletakkan beberapa obyek lain di sekitarnya
  • Sesederhana mungkin : prinsip KISS (Keep It Simple Stupid) juga berlaku saat memotret makanan. Jangan serakah memasukkan semua hal dalam frame foto, ambil saja yang paling bagus menurut Anda.
Memotret Makanan Tidak Selalu Harus Dari Atas
Memotret Makanan Tidak Selalu Harus Dari Atas 8

Nah, tips yang terakhir tetapi tidak dimasukkan daftar adalah jangan sampai kegiatan ini mengganggu orang lain, jika pemotretannya dilakukan di muka umum. Jangan sampai tangan menyenggol kepala tamu lain yang sedang asyik makan.

Tentunya, kesopanan dan adab harus tetap dijaga. Lagipula, tidak akan menyenangkan harus mendapatkan dampratan dari orang lain hanya karena sekedar ingin mendapatkan LIKE di FB atau Insta.

Be creative dan jangan pernah terikat pada teori yang tidak diketahui apakah yang menulis tahu dan mahir menggunakan kameranya. Lebih baik percaya kepada diri sendiri dan wujudkan ide di kepala Anda, daripada sekedar mengikuti teori orang lain.

Selamat berkarya, saya mau ngopi dulu ajah.

Memotret Makanan Tidak Selalu Harus Dari Atas 3

O ya, bisa lihat kan dalam tulisan ini foto-foto makanan (dan minumannya). Banyak yang dipotret tidak dari atas, dan apakah hasilnya “jelek” dan tidak enak dilihat?

Mohon bantu share

Anton Ardyanto

http://www.lovelybogor.com

Seorang blogger seorang pecinta fotografi, seorang ayah, seorang anak, seorang suami seorang tetangga.. Cuma orang biasa yang gemar melihat dunia dari viewfinder kameranya

Related post