• September 21, 2019
 Fotografi Sebagai Hobi : Langkah Awal Menjadi Fotografer Pro

Fotografi Sebagai Hobi : Langkah Awal Menjadi Fotografer Pro

Beberapa tahun belakangan ini, sejak fotografi digital semakin berkembang, semakin banyak orang yang berpikir dan berniat untuk menjadi fotografer profesional. Mereka ingin hidup, tenar, dan kaya dari kegiatan memotretnya. Sayangnya, banyak yang bingung harus memulai dari mana setelah membeli kamera pertamanya.

Nah, kalau saya sendiri akan menyarankan sebaiknya memulainya dengan langkah menjadikan fotografi sebagai hobi dulu.

Tidak sedikit yang berpikir bahwa hal itu berarti membuang waktu. Mereka lebih memilih untuk langsung ikut berbagai kelas, kursus dan seminar fotografi untuk langsung mencoba menguasai ilmunya.

Tidak salah sih. Namanya juga hak orang untuk memutuskan langkahnya sendiri. Bebas-bebas saja.

Tetapi, saya pikir akan ada beberapa hal penting yang justru hilang dan tidak didapat dengan langsung menjalaninya hanya sekedar dengan tujuan mencari uang.

Mengapa demikian? Karena fotografi sebagai hobi, meski terlihat seperti tidak memberikan manfaat apapun, sebenarnya menyediakan dasar yang bagus sekali bagi seseorang yang berniat menjadi fotografi pro.

Coba saja lihat beberapa hal di bawah ini, yang banyak dilupakan karena terlalu terfokus kepada target saja.

Passion :

Benarkah Anda menyukai dan mencintai kegiatan memotret ? Bisa jadi Anda hanya terpengaruh oleh tren, atau karena ingin terlihat keren saja di mata orang lain. Banyak loh orang yang memandang fotografi sebagai sesuatu yang keren.

Benarkah Anda memiliki passion dalam bidang yang satu ini ?

Pertanyaan itu akan terjawab ketika Anda menjalani tahap fotografi sebagai hobi.

Apakah Anda sudah bosan ketika foto yang dihasilkan tetap jelek dan kemudian memutuskan menyimpan kamera Anda dan beralih ke bidang lain yang lebih “menjanjikan”? Ataukah, Anda akan tetap bertahan dan mencoba terus belajar?

Seseorang yang tidak punya passion biasanya akan memutuskan untuk berhenti. Sebaliknya yang benar-benar menyukai akan tetap bertahan dan terus berjuang.

Tanpa passion, perjalanan menuju target menjadi profesional di bidang ini akan pendek saja. Sama seperti kebanyakan trend lainnya.

Anda harus menemukan jawaban hal yang satu ini dulu dan semua ini butuh waktu tidak sebentar.

Tantangan satu kamera satu lensa

Belajar Tanpa Tekanan

Apa cita-cita Anda saat duduk di bangku TK dulu ? Menjadi dokter? Tetara? Insinyur?

Yang manapun, pernahkah guru Anda langsung diberikan buku pelajaran kedokteran atau latihan ketentaraan berdasarkan cita-cita tadi? Ya tidak lah.

Tidak lah. Anda pasti akan diajarkan bernyanyi, berbaris dengan rapi, patuh dan hormat kepada ibu guru. Iya kan? Tidak ada guru TK yang mau memberi tekanan berlebih kepada anak asuhnya.

Mereka tahu memberikan sesuatu yang di luar kemampuan kepada yang belum mampu menyerapnya akan berakibat tidak bagus bagi perkembangan sang anak sendiri.

Begitupun dalam dunia fotografi. Langsung terfokus pada target utama menjadi fotografer pro dan belajar berbagai teknik aneh-aneh dan rumit, hasilnya akan membuat ruwet, seorang yang prinsip Rule of Thirds saja belum tahu.

Belum lagi kalau ada target waktu, seperti 3 tahun harus sudah mahir dan menghasilkan uang.

Tekanan akan datang dengan sendirinya dan bagi mereka yang tidak mampu menangani, justru akan kerap menghadirkan tekanan yang tidak bisa diatasinya. Patah arang. Akhirnya malah berhenti di tengah jalan.

Untuk menjadi fotografer pro butuh proses dan semua harus melewati tahap-tahap tertentu yang tidak terlihat. Tekanan yang berlebih cenderung kontra produktif dan menjadi penghambat.

Dengan menjadikan fotografi sebagai hobi dulu, tekanan itu bisa dihilangkan. Anda bisa belajar dengan tenang dan gembira tanpa harus merasa tertekan.

Sampah Botol Plastik Di Pantai Kartini Rembang

Dorongan Untuk Terus Belajar

Seorang penghobi sepeda motor bisa menghabiskan waktu 24 jam sekedar untuk mengutak atik motornya, berkreasi, berpikir agar motornya tampil keren dan bisa ngebut. Yang hobi mancing tidak segan masuk ke dalam got mencari belut untuk dijadikan umpan mancing.

Yang namanya hobi, biasanya akan memberikan dorongan dan semangat bagi seseorang untuk berpikir, berusaha, berkreasi, menemukan pemecahan masalah dalam bidang yang disukainya. Hasilnya terkadang mencengangkan, meski dengan peralatan yang sederhana sekalipun.

Siang malam tidak menjadi masalah selama mereka bisa melakukan hal yang membuatnya bergairah dan senang.

Begitu juga bagi seseorang yang menjadikan fotografi sebagai hobinya. Ia akan melakukan yang sama karena rasa senang yang timbul dari apa yang dilakukannya.

Berbeda dengan orang yang melakukannya karena terpaksa yang kalau tidak disuruh, ya tidak dilakukan.

Padahal, menjadi fotografer membutuhkan waktu yang cukup lama, proses yang panjang. Semua ini membutuhkan konsistensi dan ketekunan untuk menggapainya.

Bagaimana bisa melewati tahap demi tahap ketika dorongan itu tidak ada di dalam hati? Mungkin 1-2 tahun bisa bertahan, tetapi pelajaran mengatakan jarang ada fotografer handal dan profesional yang mencapainya dalam waktu sesingkat itu. Fotografer terkenal seperti Arbain Rambey, Darwis Triadi, dan banyak lagi lainya sudah menekuni dunianya belasan bahkan puluhan tahun.

Lama. Dan, tidak akan bisa tanpa motivasi atau dorongan yang kuat dari dalam diri sendiri.

Fotografi sebagai hobi akan menghadirkan dorongan yang kuat yang bisa membuat seseorang bertahan dan konsisten.

Tips Unik Berlatih Kejelian Mata Menemukan Komposisi Foto

Dunia Fotografer Pro : Dunia Rutinitas

Bila Anda berpikir bahwa menjadi fotografer pro itu tinggal ongkang-ongkang kaki, memotret sekali dua kali, dan uang akan datang, berarti sebaiknya Anda berhenti memotret saja.

Tidak beda dengan berbagai profesi lainnya, untuk menjadi sukses dan terkenal, serta banyak duit, seorang fotografer pun harus bekerja. Melakukan hal-hal rutin setiap hari.

Pergi ke pengguna jasa untuk memotret. Melakukan negosiasi harga jasa fotografi. Dan, masih banyak hal lagi hal rutin yang harus dikerjakan. Belum lagi terkadang hal itu juga sesuatu yang tidak kita sukai, seperti misalkan kita menyukai genre fotografi jalanan yang spontan dan random, kemudian harus memotret ruangan untuk agensi periklanan, tentunya akan membosankan.

Menjadi seorang yang profesional, sebenarnya sama dengan seorang pekerja dan pebisnis. Tidak berbeda.

Dan, saat itu kecintaan pada sesuai yang kita sukai, hobi kita bisa menjadi penyelamat dan pengingat bahwa ada sesuatu yang kita cintai, yaitu memotret. Bisa juga mengambil waktu jeda dari rutinitas dengan berburu foto-foto apapun sekedar untuk kegembiraan dan bukan materi, uang, saja.

Kata siapa kamera smartphone tidak bisa menghasilkan foto yang bagus A1

Bukan berarti tidak bersungguh-sungguh mengejar target dan impian, tetapi memberikan landasan yang kuat sebelum melangkah jauh itu perlu.

Dan, dalam hal ini, memandang dan menekuni fotografi sebagai hobi akan memberikan manfaat, berupa dasar yang kuat untuk bergerak maju mencapai impian. Kecintaan dari seorang penghobi bisa memegang peran penting dalam perkembangan seseorang menuju target menjadi fotografer pro.

Oleh karena itu, sediakan lah waktu “sejenak”, sekitar 2-3 tahun untuk menekuni dunia memotret ini hanya untuk bersenang-senang. Barulah setelah berpikir ulang, kemana arah dan tujuan kita selanjutnya.

Nah, sekarang ambil kamera Anda dan memotretlah sesuatu yang membuat Anda merasa berbahagia dan gembira. Karena begitulah adanya sikap seorang yang hobi fotografi saat memotret. Jarang yang memikirkan uang.

Mohon bantu share

Anton Ardyanto

http://www.lovelybogor.com

Seorang blogger seorang pecinta fotografi, seorang ayah, seorang anak, seorang suami seorang tetangga.. Cuma orang biasa yang gemar melihat dunia dari viewfinder kameranya

Related post