• September 21, 2019

Fotografi Jalanan [Bukan] Genre Orang Miskin

 Fotografi Jalanan [Bukan] Genre Orang Miskin

Agak bagaimana gitu rasanya di hati ketika membaca satu bagian tulisan di sebuah blog yang dikelola oleh sesama penggemar fotografi. Tulisannya membahas mengenai berbagai alasan mengapa orang melakukan fotografi jalanan. Tentunya sebuah hal yang normal saja karena pastinya setiap orang akan memiliki alasan saat melakukan sesuatu.

Nah, kali ini pun bahasan dalam artikel tersebut sebenarnya masuk di akal dan bisa diterima. Hanya ada satu bagian yang membuat rasa sebal dan kesal hadir saat membacanya. Maklum, saya adalah seorang penggemar fotografi jalanan.

Screenshoot khusus bagian yang dimaksud ada di bawah ini.

fotografi jalanan genre untuk orang miskin

Cukup jelas terbaca kan bahwa penulisnya beranggapan bahwa salah satu alasan melakukan fotografi jalanan adalah karena beru beli kamera atau karena tidak punya peralatan tambahan lain.

Hadeuh.

Secara tersirat sang penulis mengatakan bahwa kalau orang itu sudah lama punya kamera dan cukup kaya untuk membeli alat-alat fotografi lainnya, seperti tripod, filter, dan lainnya, ia tidak akan menekuni fotografi jalanan. Bisa dikata, ia ingin mengatakan kalau fotografi jalanan hanyalah untuk orang baru di dunia fotografi. Bisa juga ditafsirkan bahwa fotografi jalanan adalah genre orang miskin yang tidak mampu membeli perlengkapan fotografi lainnya.

Sadis banget.

Jika mau diterjemahkan lebih jauh, mereka yang sudah berpengetahuan dan berpengalaman dalam fotografi tidak akan mau menyentuh fotografi jalanan. Fotografi mungkin bagi penulis mungkin adalah tentang memotret model atau pemandangan dengan tripod, filter, dan lensa wide-angle. Fotografi jalanan tidak dianggap sebagai sebuah genre yang diperhitungkan sebagai bagian dari dunia potret memotret.

arti kode RGB dalam fotografi digital 3

Jujur saja.

Bukan hanya karena saya penggemar fotografi jalanan, tetapi sebagai sesama penggemar fotografi, pandangannya itu adalah sebuah hal yang KONYOL. Pernyataannya justru menunjukkan bahwa penulisnya kurang gemar membaca. Ia rupanya tidak pernah mendengar pepatah “Buy Book Not Gear” dari Eric Kim, yang intinya “Seorang fotografer haruslah menambah pengetahuannya terus dibandingkan sekedar membeli peralatan saja”.

Jika, sang blogger yang juga penggemar fotografi itu mau setidaknya membaca berbagai tulisan di internet saja, tidak perlu membeli buku, ia akan menemukan beberapa hal menarik terkait orang-orang yang menekuni fotografi jalanan. Sebagai contoh :

  • Yanidel : seorang pria Perancis yang berkeliling ke 80 negara di dunia untuk berburu momen. Ia salah satu fotografer jalanan yang mendapatkan banyak liputan dari media. Lagipula, senjata utamanya adalah Leica M9 yang harga body-nya saja hampir mencapai US$ 3000 atau hampir 45 juta rupiah pada kurs hari ini.
  • Bruce Gilden : seorang fotografer eksentrik yang gemar berburu wajah orang dari jarak dekat, lagi-lagi dengan kamera Leicanya yang berharga ribuan dollar ditambah dengan flash eksternalnya. Fotografer kontroversial ini merupakan salah satu fotografer jalanan ternama di dunia
  • Henri Cartier Bresson : bapaknya fotografi jalanan yang juga pendiri Magnum Photos dengan Leicanya

Bisakah dikatakan mereka adalah orang miskin dan tidak mampu membeli peralatan tambahan? Bisakah mereka dikatakan baru membeli kamera dan terjun ke dunia fotografi?

Jawabannya tentu TIDAK!

Permintaan Maaf Perubahan Layout LB Fotografi

Itulah mengapa pernyataan sang blogger menjadi terdengar sangat konyol. Bukti bahwa ia kurang menyadari bahwa dunia itu begitu luas. Tidak semua orang senang memotret pemandangan. Tidak semua orang suka merekam kecantikan model bertubuh langsing.

Banyak orang yang memiliki passion untuk merekam kehidupan alami manusia-manusia lain di jalan. Tidak sedikit yang lebih suka sesuatu yang tidak diatur.

Setiap orang punya selera yang berbeda. Dan, tidak bisa seorang memaksakan apa yang disukainya kepada orang lain. Begitupun dalam hal fotografi.

Tidak seharusnya seorang fotografer merendahkan fotografer yang berbeda genre dengannya.

Mengatakan bahwa orang melakukan fotografi jalanan karena minim peralatan atau karena baru membeli kamera adalah sebuah ungkapan yang sangat merendahkan mereka yang bergelut di genre ini.

Itulah yang membuat saya terhenyak. Rupanya perkembangan jaman masih belum menyentuh sebagian orang untuk menyadari bahwa dunia sudah berubah dan berkembang. Pandangan di atas memperlihatkan bahwa masih ada sebagian orang bahwa fotografi hanyalah milik mereka yang memotret model, lanskap, dan memiliki berbagai aksesori kamera saja.

Padahal , tidak demikian adanya. Fotografi adalah milik semua orang. Bukan hanya milik kalangan yang seperti itu.

Mohon bantu share

Anton Ardyanto

http://www.lovelybogor.com

Seorang blogger seorang pecinta fotografi, seorang ayah, seorang anak, seorang suami seorang tetangga.. Cuma orang biasa yang gemar melihat dunia dari viewfinder kameranya

Related post