Food Photography : Membuat Foto Makanan Supaya Mengundang Selera

Food Photography atau fotografi makanan adalah istilah yang mengacu pada salah satu genre fotografi yang mengkhususkan diri untuk membuat foto makanan, sesuai dengan namanya. (Food = Makanan).

Genre ini biasanya ditekuni oleh mereka yang bergelut di bidang jurnalistik, periklanan, dan sekarang bisnis online. Maklum saja, dunia makan memakan alias kuliner sedang berkembang sangat pesat dimana-mana, di seluruh penjuru dunia.

Perkembangan ini berimbas juga pada maraknya permintaan terhadap jasa fotografer yang mengkhususkan diri untuk menampilkan makanan dalam wujud yang menarik dan mengundang selera yang melihat.

Rumah makan akan membutuhkan jasa fotografernya karena tentunya mereka ingin agar apa yang ada di daftar menu terlihat enak dan membuat orang mau mencicipi. Maklum saja, kerap pengambilan keputusan untuk singgah dan mencicipi sebuah makanan masih tergantung pada apa yang secara visual dilihat.

Jasa periklanan pun memerlukannya karena banyak sekali produsen makanan yang ingin produknya tampil sempurna di mata calon pembeli.

Dunia jurnalistik tak mau ketinggalan. Hadirnya kegemaran baru di dalam masyarakat untuk berburu kuliner dimanapun menghadirkan pasar baru yang bisa digarap. Pembahasan tentang kuliner, dari tingkat pinggir jalan hingga tingkat hotel bintang lima sangat potensial mengundang pembaca.

Jadi, yah, sepertinya genre ini sedang tumbuh dengan cepat dan drastis dewasa ini. Dan, sepertinya masih akan terus tumbuh di masa mendatang. Sesuatu yang sulit dipungkiri karena selama manusia masih butuh makan, maka jasa untuk membuat foto makanan akan tetap diperlukan.

Sebuah peluang yang bisa dimanfaatkan dan digali, oleh siapapun.

Membuat Foto Makanan Supaya Mengundang Selera A

Betul siapapun? Tidak perlu selalu seorang fotografer profesional, tetapi siapapun. O ya, tentunya, siapapun dalam hal ini mereka yang terus menerus berlatih untuk mengasah kemampuannya dalam bidang memotret.

Siapapun dalam artian tidak ada batasan, setidaknya batasannya sangat longgar. Tidak selalu harus butuh kamera khusus dan mahal, kamera smartphone sekalipun bisa dipergunakan, Juga, teknik yang dipakai tidaklah rumit dan hanya mengikuti panduan dasar fotografi saja.

Tidak susah.

Memang, saya sendiri bukanlah seorang pakar dan bukan juga pelaku food photography. Genre yang saya tekuni adalah street photography alias fotografi jalanan saja.

Meskipun demikian, karena saya seorang blogger juga, yang menulis tentang kota sendiri (silakan lihat blog Lovely Bogor), saya cukup sering harus mengunjungi tempat-tempat kuliner di kota ini. Mau tidak mau karena artikel tentang kuliner merupakan salah satu yang digemari dan dicari.

Dan, mau tidak mau juga, saya harus membuat foto makanan atau kuliner sebagai bagian untuk penulisan bahasan tentang kuliner.

Jadi, lagi lagi mau tidak mau, saya harus mencoba menyajikan foto-foto masakan semaksimal mungkin.

Hal inilah yang membuat pandangan itu lahir, bahwa food fotografi bisa dilakukan semua orang.

Tidak sulit.

Semua karena sifat dari obyeknya yang “statis” alias benda tidak bergerak. Bisa dikata caranya tidak berbeda jauh dengan kalau memotret bunga.

Sifat obyeknya inilah yang memberikan “banyak waktu” bagi pemotret untuk berpikir,  mengembangkan ide, dan mengatur setting kamera. Sesuatu yang tidak tersedia banyak dalam genre fotografi jalanan yang memerlukan kesigapan dan kecepatan berpikir untuk merekam momen.

Batasan kamera pun tidak kaku. Memang akan lebih baik kalau menggunakan mirrorless atau DSLR (Digital Single Lens Reflex) dan lensa tertentu, seperti Lensa Fix 50 MM f/1.8, si raja bokeh. Tetapi, tanpa itupun bisa dilakukan.

Membuat Foto Kuliner Supaya Mengundang Selera - Foto Secangkir Kopi

Tips Membuat Foto Makanan/Kuliner

Ada beberapa tips yang bisa dipergunakan untuk memotret makanan. Apa yang ditulis di bawah ini hanya berdasarkan pengalaman saja dan biasanya dilakukan tanpa melakukan pencahayaan khusus ala fotografer makanan pro.

Maklum saja, sebagai penggemar fotografi jalanan, tidak ada perangkat lain yang dibawa, selain kamera, dan satu lensa tambahan. Selebihnya tergantung pada situasi. Lagipula, biasanya tempat makan kurang suka kalau ada pemotretan yang mengganggu pengunjung lainnya.

1) Pesan makanannya :

Ini dulu yang harus dilakukan. Karena kalau niatnya membuat foto makanan, dan dilakukan di restoran umum, pesan dulu apa yang hendak dipotret (dan nantinya dimakan).

Tanpa itu, tidak akan bisa .

2) Perhatikan Warna dan Bentuk Makanan :

Setelah pesanan diantar, jangan langsung dimakan dan dicicipi. Biarkan dalam bentuk utuh seperti asalnya. Restoran yang bagus biasanya akan selalu mencoba menyajikan apapun dalam bentuk yang “indah” dan enak dilihat. Tidak berbeda dengan fotografer makanan, rumah makan pun akan selalu berusaha menyajikan pesanan yang juga enak dipandang secara visual.

Menata makanan agar mengundang selera dan minat makan juga adalah sesuatu yang dipelajari pengusaha kuliner.

Lihat komposisi warna makanannya. Temukan apa yang menarik dan paling menonjol dari sajian di hadapan.

Perhatikan detail. Sepotong buah strawberry di atas potongan kue, parutan keju, bahkan potongan daun hijau kecil. Semua bisa berperan dalam foto.

Tidak berbeda dengan memotret model atau pemandangan, dalam memotret makanan, fotografernya juga harus bisa menonjolkan “sisi terindah” dari makanannya.

3) Latar Belakang Sesederhana/Sekosong Mungkin

Foto makanan tidak memerlukan makanan atau hiasan berlebih. Temanya makanan, jadi segala sesuatu harus terfokus kesana.

Untuk mencapai itu, pastikan latar belakang pemotretan dibuat sekosong mungkin. Berbagai hal yang tidak penting, seperti bas bunga hiasan atau kursi bisa dipinggirkan. Intinya segala sesuatu yang tidak berkaitan dengan topik makanan dibuat “menghilang” dari pandangan agar tidak masuk ke dalam frame saat pemotretan.

Kemudian, pastikan juga agar warna background secara keseluruhan bisa berpadu dengan warna makanannya (Itulah mengapa sebaiknya mempelajari dulu warna makanannya).

memotret makanan dengan kamera smartphone agar mengundang selera yang melihat

 

4) Pergunakan Bokeh

Tahukan apa itu bokeh? Kalau belum silakan baca “Apa Itu Bokeh dan bagaimana membuatnya” . Intinya bokeh itu adalah latar belakang blur.

Foto makanan tidak perlu harus selalu memperlihatkan semuanya. Banyak bagian yang bisa dikaburkan agar mata yang melihat nantinya terfokus pada satu sisi terindah saja.

Bila memakai kamera DSLR/Mirrorless bisa pergunakan aperture priority dan atur agar nilai “f” pada posisi terbesar. Biasanya saya mempergunakan bukaan antara f/1.8-f/2.5 saja.

Kalau mempergunakan smartphone, pergunakan fitur “Depth of Field” dan atur jarak pemotretan sedekat mungkin dan background sejauh mungkin.

5) Perhatikan Sumber Cahaya

Standarnya jangan memotret mengarah ke sumber cahaya, seperti lampu. Perhatikan juga apakah ada sumber cahaya lain.

Usahakan sumber cahaya berada di belakang kita saat memotret.

6) Perlihatkan Detail

Lelehan coklat di atas pisang. Parutan keju dengan daun di atasnya. Buih di atas cappuccino. Usahakan semua diperlihatkan dalam foto.

Bila makanan berbentuk kue, potong sebagian agar lapisan di dalam kue tersebut bisa diperlihatkan dalam foto.

7) Lakukan Beberapa Kali Dari Berbagai Sudut

Jangan ragu untuk memotret lebih dari satu kali. Tetapi, lakukan dari berbagai sudut yang berbeda.

Jangan lupa juga coba berbagai komposisi, seperti bagian utamanya yang dipotret, kemudian coba juga potret bagian hiasannya. Contohnya, pada kue tar, pada foto pertama bisa menekankan lapisan kuenya, dan saat memotret kedua kali, bisa bagian buah cherry-nya yang ditonjolkan.

Lakukan sampai kita merasa puas. Kalau perlu, lihat hasil pemotretan jika sudah sesuai yang dikehendaki atau belum. Jika belum, ulangi dan ulangi lagi, sampai ada hasil yang membuat kita senang.

Membuat Foto Makanan Supaya Mengundang Selera B

 

Nah, kira-kira itulah cara membuat foto makanan.

Tantangan utamanya, terutama kalau dilakukan tidak secara khusus dan di tempat umum adalah rasa malu karena orang di sekitar pasti akan memperhatikan. Mungkin kita takut orang memandang diri kita sebagai orang yang norak.

Hei. Lupakan saja apa yang ada di pikiran orang lain. Yang terpenting adalah kita bisa mendapatkan foto yang bagus.

Lagipula, di zaman sekarang, kebanyakan pengunjung tidak heran kalau ada yang memotret makanan di sebuah restoran. Maklum, zaman update status media sosial. Paling-paling mereka akan berpikir kita penggila medsos yang mau update status Instagramnya.

Abaikan yang seperti itu dan fokus saja pada memotret.

Setelah foto kuliner yang dikehendaki didapat, jangan lupa satu hal lagi.

Makanannya jangan lupa dimakan. Mubazir sudah dipesan dan tidak dimakan. Lagipula, dengan begitu kita bisa mendapatkan pengetahuan rasa makanan yang difoto. Dengan begitu berarti komplit, foto didapat, enaknya makanan diketahui, dan setelah itu, silakan buat artikel review(ulasan) tentang kuliner.

Percayalah, pengunjungnya banyak dan bisa menjadi lahan mendatangkan recehan dari iklan.

Memang enak menekuni food photography atau fotografi makanan. Banyak untungnya.

Mau?

(Catatan : foto-foto di dalam artikel ini dibuat dengan kamera DSLR Canon 700D dan Smartphone Asus Padfone T00N di Kafe Seniman Stories dan Ichiban Sushi Bogor)

Mohon bantu share
Anton Ardyanto

Anton Ardyanto

http://www.lovelybogor.com

Seorang blogger seorang pecinta fotografi, seorang ayah, seorang anak, seorang suami seorang tetangga.. Cuma orang biasa yang gemar melihat dunia dari viewfinder kameranya

Related post