Dilema Fotografer : Menolong Korban Atau Terus Memotret

Dilema Fotografer - Menolong Korban atau Terus Memotret

Abd Alkader Habak berlari sambil menggendong anak yang terluka akibat bom mobil pada konflik Suriah 2017 – Sumber Twitter

Tugas seorang fotografer atau juru foto adalah memotret dan membuat foto. Tetapi, bagaimana ketika ia dihadapkan kepada sebuah pilihan lain yang sama pentingnya, seperti menyelamatkan jiwa seseorang.

Sebuah hal yang sangat mungkin terjadi dalam kehidupan fotografer manapun, dimana tugasnya dibenturkan dengan sisi kemanusiaannya.

Abd Alkader Habak adalah seorang fotografer yang bertugas di daerah konflik Suriah pada bulan April 2017. Ketika ia sedang bertugas mengambil foto rombongan para pengungsi, sebuah bom meledak.

Seketika puluhan orang bergelimpangan akibatnya, termasuk Habak sendiri yang sempat mengalami shock akibat ledakan bom tadi.

Hanya, setelah sadar ia melihat banyak sekali korban akibat ledakan tadi.

Pilihan apa yang diambilnya? Sebagai seorang juru foto, tugasnya adalah membuat foto dari peristiwa itu, tetapi, nalurinya sebagai manusialah yang membuat foto ini dihasilkan.

Ia memilih melepaskan kameranya dan kemudian berlari menggendong salah satu bocah yang terluka akibat ledakan dan membawanya ke ambulan. Tindakan ini diulanginya sampai ia kemudian pingsan.

Foto ini diambil oleh kamera rekannya dan kemudian menjadi viral karena memperlihatkan bahwa manusia tetaplah manusia.

Dilema yang sama pernah dihadapi oleh Paul Nicklen, seorang fotografer dan ahli kelautan untuk National Geographic di saat sedang merekam kehidupan alam liar. Saat itu ia sedang mengamati pertarungan antara elang di Vancoucer, British Columbia.

Dalam pertarungan itu, seekor elang kalah dan tercebur ke dalam arus sungai yang deras. Hasilnya sudah jelas bagi seekor elang yang perkasa di udara, tetapi tidak berdaya dalam air. Kematian adalah akhirnya.

Keputusan yang sulit karena sebagai seorang fotografer dan peneliti alam liar, etikanya adalah untuk tidak ikut campur dalam kehidupan disana. Hal itu dapat merusak ekosistem karena pertarungan di alam liar adalah bagian dari kehidupan sendiri. Kalah menang adalah hal biasa.

Hanya, pada akhirnya Paul Nicklen dan rombongan memutuskan untuk menyelamatkan hewan langka itu dari kematian. Mereka mengangkatnya ke perahu dan kemudian merawatnya sebelum kemudian melepaskannya.

Sebuah dilema yang bukan tidak mungkin dihadapi semua fotografer, termasuk Anda dan saya, meski dalam skala yang berbeda.

Kecelakaan di jalan raya, korban hanyut di sungai, atau seorang nenek yang hendak menyeberang jalan, bisa menghadirkan dilema yang sama.

Haruskah kita berpegang kukuh pada prinsip tugas seorang juru foto adalah merekam peristiwa ? ataukah kita mau mengedepankan sisi etika dan kemanusiaan kita.

Saya akan memilih, kalau itu terjadi, untuk meletakkan kamera saya dan kemudian berusaha untuk menolong. Bagaimanapun, tidak ada yang lebih penting dibandingkan dengan nyawa seseorang. Tidak sebanding.

Bagaimana dengan Anda? Apa jawaban Anda untuk memecahkan dilema itu?

Banyak orang Indonesia rupanya sudah menemukan jawabannya. Kasus kecelakaan tunggal di Jagorawi yang melibatkan kendaraan APV dan menyebabkan 3 orang tewas sudah tersebar lewat media sosial bahkan mungkin sebelum polisi datang ke lokasi. Rupanya, kehebohan dan kesenangan menjadi orang pertama yang melaporkan lebih penting daripada mencoba melakukan sesuatu.

Mohon bantu share