Banyak Review Kamera Yang Dibuat Orang Yang Tidak Pernah Pegang Kamera

Banyak Review Kamera Yang Dibuat Orang Yang Tidak Pernah Pegang Kamera 3
Gunung Salak, Bogor 2020

Ironis? Bisa jadi.

Para penggemar fotografi memiliki sebuah kebiasaan ketika mereka hendak membeli kamera, mereka akan melakukan riset terlebih dahulu. Salah satunya adalah dengan cara browsing internet berkelana dari satu situs ke situs lain yang membahas tentang kamera.

Cara itu bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan informasi yang cukup tentang apakah sebuah kamera bisa memenuhi kebutuhan dan sesuai keinginan mereka atau tidak. Biasanya juga, setidaknya calon pembeli kamera dari kalangan yang satu ini sudah memiliki pengetahuan dasar tentang berbagai fungsi kamera.

Nah, ironisnya, seringkali mereka ternyata kadang justru mendapatkan informasi dan bahkan mempercayainya dari orang yang sebenarnya pengetahuannya tentang fotografi berada di bawah mereka.

Hal itu bisa terjadi karena banyak review kamera yang ada di dunia maya sebenarnya ditulis oleh mereka yang tidak pernah pegang kamera, selain kamera ponsel saja.

Betul loh. Hal ini terjadi.

 

Mengapa hal ini bisa terjadi?

 

Blogger. 

Kebiasaan umum dalam mencari informasi di zaman digital seperti sekarang ini adalah dengan mengandalkan pada mesin pencari, seperti Google, Yahoo, Bing, atau lainnya.

Pencari informasi memasukkan kata kunci (keyword), seperti Nikon D3500 untuk mendapatkan informasinya ke kolom pencarian.

Kemudian, di layar monitor akan muncul daftar link dari artikel yang berkaitan dengan kata kunci tersebut. Tulisan-tulisan ini dianggap yang paling relevan dengan apa yang sedang dibutuhkan oleh sang pencari informasi.

Tapi …

Para mesin pencari “TIDAK” memasukkan faktor apakah penulis artikel tersebut dibuat orang yang paham tentang bidang itu atau tidak. Mereka memang tidak punya data seperti itu.

Sangat bisa jadi bahwa tulisan tentang kamera dibuat blogger yang sebenarnya hanya mengejar trafik pengunjung saja. 

Mereka menulis hanya berdasarkan pada “riset” dari tulisan-tulisan lain yang banyak beredar di dunia maya juga. Tidak sedikit yang mendapatkannya karena memiliki kemampuan berbahasa asing dan mengambil informasi dari website-website asing sebelum ditulis ulang dan diterbitkan di blog mereka.

Sangat bisa jadi mereka sebenarnya bahkan tidak tahu cara mengganti lensa kamera DSLR,  apa itu istilah segitiga exposure, atau bahkan cara mengaktifkan mode manual di kamera.

Banyak Review Kamera Yang Dibuat Orang Yang Tidak Pernah Pegang Kamera

Ya.. itulah kenyataannya.

Para blogger atau penulis seperti itu mayoritas tahu cara dan teknik SEO (Search Engine Optimization) atau Optimasi Mesin Pencari. Mereka akan membuat tulisan yang membuat mesin pencari berpikir bahwa itu adalah tulisan terbaik menurut standar mereka.

Dan, ketika kata kunci dimasukkan ke mesin pencari, maka tulisan mereka yang sudah dioptimasi akan muncul di halaman pertama.

Otomatis, para pencari informasi akan mengklik yang paling pertama tampil di layar.

Itulah faktanya. Para penggemar fotografi melandaskan pembelian kamera mereka berdasarkan ulasan atau review kamera yang dibuat orang yang tidak tahu tentang kamera. Mungkin kamera yang mereka punya hanyalah kamera ponsel dan bukan tidak mungkin juga mereka tidak paham cara menggunakannya dengan baik.

Ironis kan?

Pastinya.

Benarkah ?

Ini adalah kenyataan di lapangan. 

Sebagai seorang fotografer, atau penggemar fotografi, saya juga seorang blogger. Saya pernah membaca penjelasan dari salah satu blogger terkenal Indonesia yang gemar menulis tentang teknologi dan perangkat digital .

Ia cukup terkenal di dunia blogger dan blognya lumayan banyak. 

Dalam salah satu tulisannya (saya tidak mau memberi rujukan link kesana karena sebenarnya menyesatkan), ia menjelaskan proses pembuatan tulisan berjudul “10 Kamera Terbaik …..”

Cara yang dilakukannya adalah dengan melakukan “riset”.

Jangan bayangkan bahwa ia riset dengan mencoba satu persatu kamera yang ditulisnya. Ia hanya sekedar berkunjung ke berbagai website luar dan dalam negeri yang membahas kamera/fotografi.

Kemudian, berdasarkan hal itu ia menulis daftar kamera terbaik versinya.

Tanpa sama sekali mencoba satu persatu kamera yang disebutnya terbaik itu.

(Yah, sangat bisa jadi dia sebenarnya tidak paham tentang kamera, tetapi ia pandai menulis)

Jadi, tulisannya hanyalah berdasarkan asumsi dan data saja, bukan karena ia tahu tentang fotografi dan kegunaan kamera.

Lucu kan?

Contoh Foto Hasil Teknik Framing atau Bingkai A

Bagaimana cara menghindari review kamera dari orang yang tidak tahu kamera?

 

Agak sulit. Yah, sulit, bukan agak lagi.

Kita sebagai pencari informasi juga tidak kenal siapa penulisnya dan tidak begitu tahu apakah ia memang punya kemampuan atau tidak. Kita melandaskan pencarian informasi berdasarkan “kepercayaan” terhadap mesin pencari saja.

Jadi, tidak mungkin 100% bisa menghindari seperti itu.

Meski demikian ada beberapa tips untuk membantu memilah dan menyingkirkan review kamera atau lensa yang dibuat orang yang tidak paham kamera tadi, seperti :

1. Pilih review atau ulasan di blog yang khusus membahas tentang fotografi. Kalau blog atau websitenya membahas terlalu banyak topik, lewat saja karena besar kemungkinan ia hanya mengejar pembaca saja, bukan benar-benar tahu dan paham

2. Kalau mencari spesifikasi, tidak perlu di blog. Langsung saja pergi ke website brand tersebut, seperti kalau kamera Canon , ya ke website Canon. Toh banyak yang sudah ada versi Indonesianya

3. Jangan tertarik pada tulisan yang membuat daftar terbaik karena hampir jelas banyak ngibulnya. Manalah mungkin menilai satu persatu ratusan jenis kamera yang ada di dunia. Kalaupun Anda mau membacanya, tidak apa, tetapi jangan percaya 100%

4. Cek nama pengarang tulisan itu (pemilik blog itu), apakah ia memang punya keahlian dalam bidang itu. Caranya? Manfaatkan mesin pencari (Google) dan masukkan nama sang pengarang. Kalau memang namanya tidak muncul dalam tulisan fotografi, abaikan saja berarti dia sebenarnya tidak benar-benar paham

5. Kalau sang pengarang punya website, lihat apakah ia pernah memamerkan hasil karya fotografinya. Kalau tidak atau kalau fotonya hanyalah hasil mendownload dari internet juga, abaikan saja. Lha ya katanya bisa mereview kamera, seharusnya dia tahu cara menggunakannya. Kalau tidak bagaimana ia bisa tahu kelebihan dan kekurangan kamera yang direviewnya

Agak rumit juga, tetapi rasanya perlu dilakukan daripada kita mendapatkan informasi dari orang yang sebenarnya hanya pura-pura tahu saja.

Alih-alih ingin kamera yang bagus, hasilnya dapat kamera yang tidak sesuai dengan kemauan karena informasi yang salah seperti ini.

(Baca juga : Yang Mana Merk Kamera Terbaik? Canon, Nikon, Pentax, Olympus, Leica, Atau Yang Lain? )

Jadi, kalau memang sedang berniat kamera. Sabar sebentar. Jangan terburu-buru dalam pencarian informasi.

Luangkan waktu sejenak untuk juga mengecek kredibilitas pembuat tulisan review tentang kamera atau lensa atau perlengkapan fotografi lainnya.

 Carilah dulu tuluan-tulisan yang memang benar-benar dibuat orang yang mengerti. Bukan sekedar orang yang ingin Anda membaca tulisannya.

Bogor, 25 Januari 2020

Mohon bantu share